Berita Lain
-
Selasa, 06/01/2009 08:55 WIB
Gudeg Banda, Dulu dan Kini -
Senin, 05/01/2009 13:20 WIB
Santap ala Tempo Dulu di Sumber Hidangan -
Senin, 05/01/2009 09:15 WIB
Sumber Hidangan, Tak Berubah Sejak Dulu -
Selasa, 30/12/2008 15:58 WIB
Pesanan Roti Buaya Laris Manis Kala Liburan Sekolah -
Selasa, 30/12/2008 11:41 WIB
Roti Bumbu Bakar Pertama di Bandung -
Selasa, 30/12/2008 07:14 WIB
Roti Cari Rasa, Ada di Mana-mana
Indeks Berita
Forum Bandung
- Aanjangan - Ceker Ayam Le... aanjangan
- effa rajab catering... evamalitayus
- Mahkota dewa... Imanharj
- Wisata Kuliner... silvernautillus
- Mih Baso... sepsipter
- Bubur ayam... jasmine
Kamis, 30/10/2008 08:37 WIB
Pesona Lezatnya Lomie Imam Bonjol
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Ibarat gula yang dikerubungi semut, lezatnya Lomie Imam Bonjol tak hanya mengundang orang untuk datang tapi membuka peluang penjual lain untuk turut 'nimbrung' meraup rezeki.
Siapa yang tak kenal dengan warung Lomie dan Bakmi Imam Bonjol yang terletak di Jalan Imam Bonjol. Tempat ini berada di pekarangan sebuah rumah yang disulap jadi pujasera.
Setiap hari terutama saat makan siang orang-orang berjejal. Meski sudah menginjak sore, orang-orang masih berdatangan. Terlihat sebuah mobil menepi di pekarangan luar sedangkan motor-motor berderet memadati pekarangan bagian dalam.
Roda-roda penjual berderet tak hanya di pekarangan tapi juga di bagian dalam. Dari mulai lomie, baso tahu, batagor, pempek, masakan Sunda dan Seafood di Dapur Kita, batagor, baso tahu, ayam tulang lunak, es oyen, lotek, karedok, rujak sampai junkfood ala Clemmons.
Padahal awalnya di tempat itu hanya penjual lomie. Dituturkan Sukirno (40) awalnya kakaknya, Ngadimin berjualan lomie di pinggiran Jalan Imam Bonjol.
"Saat itu penjual yang ada di Jalan Imam Bonjol hanya kakak saya," terang Sukirno. Selepas itu salah seorang pemilik rumah rumah mengajak Ngadimin berjualan di pekarangannya. Lomie Imam Bonjol pun kian populer. Kini sudah memiliki sebanyak 11 karyawan.
Nama besar Lomie Imam Bonjol pun membuat pedagang-pedagang lain pun satu per satu ikut bergabung di tempat ini.
"Mereka bergabung masih baru. Kira-kira dua tahun yang lalu," jelas Sukirno. Sukirno yang sekarang mengelola secara langsung usaha lomie kakaknya ini mengatakan meskipun sudah banyak pedagang lomie tetap menjadi komando.
Menurut Sukirno para pedagang mengikuti jam dagang lomie. Jika lomie tutup pukul 17.00 WIB maka pedagang lain pun ikut tutup. Jadi jangan heran jika datang ke Lomie Imam Bonjol sekitar pukul 17.00 WIB harus gigit jari karena pedagang lomie sudah undur diri.
"Kasihan para pegawai mereka sudah bersiap-siap dari subuh karena bahan lomie disiapkan secara instan dan masih segar," terangnya.
Meskipun hanya sampai sore, setiap harinya Lomie Imam Bonjol laku sampai 300 porsi, jika weekend bisa sampai 500 porsi. Satu porsi lomie harganya Rp 12 ribu. Walaupun mengalami kenaikan dari harga sebelumnya, penggemar lomie tak pernah sepi.
Seperti Yuyus (27) yang sudah berlangganan lomie Imam Bonjol sejak tahun 1998. Menurut Yuyus rasa lomie di tempat ini berbeda dengan lomie-lomie di tempat lainnya.
Lain Yuyus lain Furi (33) yang mengaku kalau datang ke tempat ini yang dia tuju adalah lomie. "Saya suka karena ada sayurannya," tutur Furi yang datang bergerombol bersama rekan-rekannya.
Untuk bersantap kelezatan mie, sayuran kangkung dan toge yang diguyur kuah kental campuran tepung kanji, cumi kering, ebi, daging ayam dan bumbu-bumbu. Tambahan empat butir baso membuat lomie tampak lezat dalam porsi mangkok besar. Yam... yam... yam!(ema/afz)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Pesona Lezatnya Lomie Imam Bonjol
Ema Nur Arifah - detikBandung
Siapa yang tak kenal dengan warung Lomie dan Bakmi Imam Bonjol yang terletak di Jalan Imam Bonjol. Tempat ini berada di pekarangan sebuah rumah yang disulap jadi pujasera.
Setiap hari terutama saat makan siang orang-orang berjejal. Meski sudah menginjak sore, orang-orang masih berdatangan. Terlihat sebuah mobil menepi di pekarangan luar sedangkan motor-motor berderet memadati pekarangan bagian dalam.
Roda-roda penjual berderet tak hanya di pekarangan tapi juga di bagian dalam. Dari mulai lomie, baso tahu, batagor, pempek, masakan Sunda dan Seafood di Dapur Kita, batagor, baso tahu, ayam tulang lunak, es oyen, lotek, karedok, rujak sampai junkfood ala Clemmons.
Padahal awalnya di tempat itu hanya penjual lomie. Dituturkan Sukirno (40) awalnya kakaknya, Ngadimin berjualan lomie di pinggiran Jalan Imam Bonjol.
"Saat itu penjual yang ada di Jalan Imam Bonjol hanya kakak saya," terang Sukirno. Selepas itu salah seorang pemilik rumah rumah mengajak Ngadimin berjualan di pekarangannya. Lomie Imam Bonjol pun kian populer. Kini sudah memiliki sebanyak 11 karyawan.
Nama besar Lomie Imam Bonjol pun membuat pedagang-pedagang lain pun satu per satu ikut bergabung di tempat ini.
"Mereka bergabung masih baru. Kira-kira dua tahun yang lalu," jelas Sukirno. Sukirno yang sekarang mengelola secara langsung usaha lomie kakaknya ini mengatakan meskipun sudah banyak pedagang lomie tetap menjadi komando.
Menurut Sukirno para pedagang mengikuti jam dagang lomie. Jika lomie tutup pukul 17.00 WIB maka pedagang lain pun ikut tutup. Jadi jangan heran jika datang ke Lomie Imam Bonjol sekitar pukul 17.00 WIB harus gigit jari karena pedagang lomie sudah undur diri.
"Kasihan para pegawai mereka sudah bersiap-siap dari subuh karena bahan lomie disiapkan secara instan dan masih segar," terangnya.
Meskipun hanya sampai sore, setiap harinya Lomie Imam Bonjol laku sampai 300 porsi, jika weekend bisa sampai 500 porsi. Satu porsi lomie harganya Rp 12 ribu. Walaupun mengalami kenaikan dari harga sebelumnya, penggemar lomie tak pernah sepi.
Seperti Yuyus (27) yang sudah berlangganan lomie Imam Bonjol sejak tahun 1998. Menurut Yuyus rasa lomie di tempat ini berbeda dengan lomie-lomie di tempat lainnya.
Lain Yuyus lain Furi (33) yang mengaku kalau datang ke tempat ini yang dia tuju adalah lomie. "Saya suka karena ada sayurannya," tutur Furi yang datang bergerombol bersama rekan-rekannya.
Untuk bersantap kelezatan mie, sayuran kangkung dan toge yang diguyur kuah kental campuran tepung kanji, cumi kering, ebi, daging ayam dan bumbu-bumbu. Tambahan empat butir baso membuat lomie tampak lezat dalam porsi mangkok besar. Yam... yam... yam!(ema/afz)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




