Berita Lain
-
Selasa, 03/08/2010 10:13 WIB
Cerita di Balik Mini Album Sarasvati -
Selasa, 03/08/2010 09:49 WIB
Festival KAA, Ceritakan Kotamu Lewat Film Pendek -
Senin, 26/07/2010 13:28 WIB
Bandung Creative Hub, Markas Orang Kreatif -
Jumat, 25/06/2010 15:01 WIB
Gitar Geta
Dijual di Luar Negeri dengan Nama 'Faith' -
Jumat, 25/06/2010 12:08 WIB
Gitar Genta Banyak Dipakai Band Terkenal -
Jumat, 25/06/2010 10:27 WIB
Genta Gitar yang Melegenda
Indeks Berita
- “Pembiaran” Kerusakan J... luweh_weh
- suatu Tindak Kejahatan M... akizahra
- Pemerintah Pelanggar utam... geraimaya
- Angkutan kota alias angko... silvernautillus
- Knp org JKT suka ke BANDU... R@!n
- [Share Info] Jalan Jalan ... hishigi mibu
Rabu, 25/02/2009 11:09 WIB
Menguak Sidik Jari di Lubuk Mimpi
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung -
Antara kertas dan sidik jari. Selama satu setengah bulan perupa Sunaryo menghabiskan waktunya di Singapura untuk mengeksplorasi dua materi yang memiliki dua sudut pandang berbeda tersebut. Untuk mempertemukannya pada satu titik. Sebagai perwujudan atas sebuah gagasan hakiki yaitu tentang identitas untuk dituangkannya di atas kertas.
Tapi cukup mengagumkan. Dalam waktu singkat, seperti diakui oleh Sunaryo pertama kali dalam hidupnya dalam rentang waktu tersebut dia bisa menghasilkan sebanyak 40 karya. "Aku lupa selasar, lupa keluarga," aku Sunaryo ketika membuat karya-karyanya ini di Singapura tahun 2007 lalu.
Meski agak galau awalnya. Menurut Sunaryo ketika dia ditawari untuk melakukan pameran di Singapore Tyler Print Institute (STPI) situasi menjadi tak terduga. Sunaryo tak tahu apa yang harus dilakukannya.
Di sini Sunaryo dituntut membuat karya dengan medium kertas. Di mana STPI adalah institusi yang bergerak dalam produksi, pengembangan teknologi dan publikasi karya-karya seni grafis dan kertas.
Sampai akhirnya Sunaryo berkata, "Dengan inilah saya ingin berkarya," sambil menunjukan gambaran sidik jarinya sendiri dengan tinta pada akar kertas dan tekhnik cetak grafis yang mendampinginya dalam membuat karya saat itu. Mereka adalah Richard Hungerford seorang Master of Papermaker, Eitaro Ogawa seorang Chief Printer dan Eng Joo Heng seorang senior Printer.
Sunaryo menyatakan sidik jari menjadi pembeda di antara miliaran manusia. Sebuah penciptaan karya seni agung dari sang khalik. Sebuah keunikan tentang manusia dengan segala entitas sosial yang melingkupinya.
Sidik jari itu sebuah metafor dari identitas, demikian diungkapkan kurator Agung Hujatnikajennong dalam konferensi pers, Selasa (24/02/2009). Pencarian personal seorang Sunaryo dan subjektifitasnya. Kemudian dituangkannya dalam kertas. Dipadukannya dengan beragam motif dan tekhnik seperti batik sebagai wujud pembauran antara sesuatu yang orisinil dan identitas batik yang begitu komunal.
Sidik jari yang dieksplorasi dalam media kertas khusus. Di mana kertas, di sini, menurut Agung sebagai gambaran lainnya untuk menunjukan hubungan manusia dengan alam, di mana kertas berasal.
Maka karya-karya sidik jari dan permukaan tangan Sunaryo di atas kertas yang dipamerkan di STPI 2007 lalu tersebut, diboyong ke Indonesia untuk dipamerkan. Walaupun ke-30 karya tersebut sudah dimiliki oleh kolektor Indonesia sementara 10 karya lainnya dimiliki oleh kolektor di Singapura.
Dalam sebuah pameran bertajuk Puisi Lubuk Mimpi Sunaryo yang digelar di Selasar Sunaryo 1-15 Maret mendatang, Sunaryo mencoba menunjukan perasannya akan mimpi. Mengutip pernyataan Bambang Sugiharto, Agung mengungkapkan karya Sunaryo menghadirkan keseimbangan dan kejutan sebagai intensitasnya.
Puisi Lubuk Mimpi yang akan dibuka 28 Februari mendatang dengan menghadirkan kolaborasi apik bersama pemain harpa Maya Hasan, disebutkan Agung adalah ruang emosi atas gagasan Sunaryo yang subjektif dan personal.
Seperti rima dan irama dengan struktur tertentu seperti apa yang ada dalam puisi. "Mengungkap persoalan yang subjektif tapi di saat yang sama menyentuh hal yang universal," ucap Agung.
(ema/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Menguak Sidik Jari di Lubuk Mimpi
Ema Nur Arifah - detikBandung
Tapi cukup mengagumkan. Dalam waktu singkat, seperti diakui oleh Sunaryo pertama kali dalam hidupnya dalam rentang waktu tersebut dia bisa menghasilkan sebanyak 40 karya. "Aku lupa selasar, lupa keluarga," aku Sunaryo ketika membuat karya-karyanya ini di Singapura tahun 2007 lalu.
Meski agak galau awalnya. Menurut Sunaryo ketika dia ditawari untuk melakukan pameran di Singapore Tyler Print Institute (STPI) situasi menjadi tak terduga. Sunaryo tak tahu apa yang harus dilakukannya.
Di sini Sunaryo dituntut membuat karya dengan medium kertas. Di mana STPI adalah institusi yang bergerak dalam produksi, pengembangan teknologi dan publikasi karya-karya seni grafis dan kertas.
Sampai akhirnya Sunaryo berkata, "Dengan inilah saya ingin berkarya," sambil menunjukan gambaran sidik jarinya sendiri dengan tinta pada akar kertas dan tekhnik cetak grafis yang mendampinginya dalam membuat karya saat itu. Mereka adalah Richard Hungerford seorang Master of Papermaker, Eitaro Ogawa seorang Chief Printer dan Eng Joo Heng seorang senior Printer.
Sunaryo menyatakan sidik jari menjadi pembeda di antara miliaran manusia. Sebuah penciptaan karya seni agung dari sang khalik. Sebuah keunikan tentang manusia dengan segala entitas sosial yang melingkupinya.
Sidik jari itu sebuah metafor dari identitas, demikian diungkapkan kurator Agung Hujatnikajennong dalam konferensi pers, Selasa (24/02/2009). Pencarian personal seorang Sunaryo dan subjektifitasnya. Kemudian dituangkannya dalam kertas. Dipadukannya dengan beragam motif dan tekhnik seperti batik sebagai wujud pembauran antara sesuatu yang orisinil dan identitas batik yang begitu komunal.
Sidik jari yang dieksplorasi dalam media kertas khusus. Di mana kertas, di sini, menurut Agung sebagai gambaran lainnya untuk menunjukan hubungan manusia dengan alam, di mana kertas berasal.
Maka karya-karya sidik jari dan permukaan tangan Sunaryo di atas kertas yang dipamerkan di STPI 2007 lalu tersebut, diboyong ke Indonesia untuk dipamerkan. Walaupun ke-30 karya tersebut sudah dimiliki oleh kolektor Indonesia sementara 10 karya lainnya dimiliki oleh kolektor di Singapura.
Dalam sebuah pameran bertajuk Puisi Lubuk Mimpi Sunaryo yang digelar di Selasar Sunaryo 1-15 Maret mendatang, Sunaryo mencoba menunjukan perasannya akan mimpi. Mengutip pernyataan Bambang Sugiharto, Agung mengungkapkan karya Sunaryo menghadirkan keseimbangan dan kejutan sebagai intensitasnya.
Puisi Lubuk Mimpi yang akan dibuka 28 Februari mendatang dengan menghadirkan kolaborasi apik bersama pemain harpa Maya Hasan, disebutkan Agung adalah ruang emosi atas gagasan Sunaryo yang subjektif dan personal.
Seperti rima dan irama dengan struktur tertentu seperti apa yang ada dalam puisi. "Mengungkap persoalan yang subjektif tapi di saat yang sama menyentuh hal yang universal," ucap Agung.
(ema/ern)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk




